APEL ROME BEAUTY


APEL ROME BEAUTY

APEL ROME BEAUTY
Family Rosaceae

Deskripsi
Apel ini disebut juga apel hijau atau apel australia. Ciri khasnya terletak pada warna kulit buah yang tetap hijau kekuningan meskipun sudah masak. Buahnya berbentuk agak bulat dengan lekukan di bagian ujung relatif dalam. Berat rata-rata tiap buah sekitar 175 g. Daging buah keras, bertekstur halus, dan beraroma kuat dengan warna putih. Rasanya segar sedikit asam. Tanaman yang umurnya sudah mencapai tujuh tahun produksinya dapat mencapai 30-40 kg per pohon per musim.

Manfaat
Selain sebagai buah segar untuk buah meja, apel mempunyai nilai tinggi sebagai minuman. Fungsi buah apel dapat mencegah penyakit sariawan gusi. Buahnya dapat dibuat cuka atau cider melalui fermentasi. Buah apel dapat memperkuat daya tahan tubuh terhadap penyakit gangguan lambung dan tumor dalam jangka panjang. Kayunya kurang baik untuk bangunan, tetapi baik untuk kayu bakar.

Syarat Tumbuh
Tanaman apel hanya dapat tumbuh dan berbuah di daerah dataran tinggi antara 700-2.00o m dpl yang iklimnya kering. Di daerah yang beriklim basah, pertumbuhan tanaman mengalami banyak kendala dan rasa buah kurang manis. Kendala utama adalah penyakit daun (embun upas). Tanaman ini sebaiknya ditanam di tempat terbuka. Di dataran rendah, tanaman tidak mampu berbunga.

Pedoman Budidaya
Perbanyakan tanaman Tanaman apel umumnya diperbanyak dengan tunas rundukan (layering). Namun, untuk menghasilkan bibit bermutu sebaiknya tanaman diperbanyak dengan okulasi. Sebagai tanaman batang bawah digunakan tunas rundukan dari varietas apel liar yang telah berumur 8-12 bulan. Batang atas digunakan apel unggul. Budi daya tanaman Bibit okulasi dalam polibag atau cabutan (stump) ditanam dengan jarak tanam 2 m x g m atau 3 m x 3 m. Ukuran lubang tanam 60 cm x 60 cm x 40 cm. Bibit diberi pupuk kandang yang telah jadi sebanyak dua blek atau 4o kg/lubang. Pupuk buatan 50-i.000 g NPK per tanaman diberikan 2-3 kali setahun, terutama menjelang berbunga dan sehabis panen. Pekerjaan yang sangat penting adalah pelengkungan cabang. Cabangcabang yang ujungnya telah beruas rapat segera dilengkungkan mendatar (horizontal) dan ujungnya dipotong. Oleh karena setiap tanaman akan dibungakan (dibuahkan) maka seluruh daun pada cabang yang dilengkungkan tersebut dirompes, lalu tanaman diberi air secukupnya (bila musim kemarau) dan pupuk NPK. Pelengkungan cabang yang beruas rapat (cabang dorman) harus diusahakan permanen, yakni dengan tali yang tahan lama (ijuk, tali plastik). Pada cabang yang telah dirompes akan tumbuh tunas-tunas tumpul yang kemudian muncul bunga. Tunas-tunas yang runcing hanya akan menjadi tunas daun (vegetatif).

Pemeliharaan
Pemeliharaan yang penting adalah membuang tunas liar/tunas air yang sering tumbuh pada cabang atau batang bawah. Gulma/alang-alang yang tumbuh di kebun apel harus segera dibersihkan. Demikian pula bila ada lumut (Lichenes) yang tumbuh pada batang harus dibersihkan. Daun-daun yang menutup buah harus dirompes karena buah yang tidak terkena sinar matahari warnanya tidak akan merata (hijau merah atau hijau kuning).

Hama dan Penyakit
Hama utama tanaman apel berupa kutu daun hijau (Aphis pomi) dan kumbang daun. Penyakit penting adalah embun upas atau busuk kering daun (Marsonina caronaria), pucuk bertepung atau mildu tepung (Podosphaera leucotricha), dan busuk batang (Cortisum salmonicolor). Bila belum terlambat, semprotan fungisida Benlate 0,3% dapat mengatasi serangan penyakit di atas. Karbolinum plantarum 10% (CP) dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit.

Panen dan Pasca Panen
Apel dipanen setelah tua benar di pohon karena buah ini tergolong tidak dapat diperam (non-klimaterik). Buah dipanen dengan cara tangkai dipotong. Alat yang digunakan berupa gunting pangkas tajam. Pemanenan dapat dilakukan 4-5 bulan setelah bunga mekar


Salah satu kota di Indonesia yang banyak menghasilkan apel adalah Kota Batu, Malang. Ya, benar sekali Kota Batu memang identik dengan buah apelnya, bahkan pamor apel ini sudah sangat terkenal seantero negeri. Budidaya apel di Kota Batu ini sendiri sudah dimulai sejak tahun 1950, dan mulai saat itu budidaya apel berkembang sangat pesat hingga sekarang.Merunut jenisnya, apel yang diproduksi Kota Batu, Malang ini terdiri dari 3 jenis, yakni apel Rome Beauty, apel Manalagi dan Apel Anna yang telah resmi dilepas pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan).Dikatakan Suhariyono, peneliti apel dari Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) mengatakan, apel Rome Beauty, apel Manalagi dan Apel Anna disebut juga apel hijau.

1. Apel Rome Beauty

Apel Rome Beauty ciri-ciri khasnya terletak pada warna kulit buah yang tetap hijau kekuningan meskipun sudah masak. Buahnya berbentuk agak bulat dengan lekukan di bagian ujung relatif dalam. Berat rata-rata tiap buah sekitar 175 gram. Daging buah apel ini keras, bertekstur halus dan beraroma kuat dengan warna putih. Rasanya segar sedikit asam. Tanaman yang umurnya sudah mencapai tujuh tahun produksinya dapat mencapai 30-40 kg per pohon per musim.Apel Rome Beauty dilepas dengan SK Menteri Petanian Nomor 893/ Kpts/TP.240/11/1984 tanggal 12 Nopember 1984. Apel Rome Beauty berasal introduksi dari Negara Belanda yang dianjurkan baik ditanam pada dataran tinggi antara 700-1.200 m dpl dengan tipe iklim kering.Pohon Induk Tunggal (PIT) apel Rome Beuty telah dideterminasi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Timur dengan No. Induk PIT/AL/a/JTM-001/16, nomor seri 551, tanggal 07 Agustus 2003. Lokasi Pohon Induk Tunggal (PIT) apel Rome Beaty berada di Kebun Percobaan Banaran.

2. Apel Manalagi

Menurut Suhariyono, apel Manalagi disukai karena rasa daging buahnya manis, meski belum matang dan aromanya kuat. Teksturnya agak liat dan kurang kandungan airnya. Warna daging buahnya putih kekuningan. Buahnya berbentuk agak bulat dengan ujung dan pangkal berlekuk dangkal. Diameter buah antara 4-7 cm dan berat 75-160 gram per buah. Kulit buah berwarna hijau muda kekuningan saat matang. Produksi rata-rata per pohon 75 kg.

Apel Manalagi dilepas dengan SK Menteri Pertanian No. 899/Kpts/TP.240/11/1984, tanggal 12 Nopember 1984. Apel Manalagi merupakan introduksi dari Belanda. Baik ditanam pada dataran tinggi antara 700-1.200 meter dpl dengan tipe iklim kering. Pohon Induk Tunggal (PIT) apel Manalagi telah dideterminasi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Timur dengan nomor Induk :PIT/AL/b/JTM-001/18. No. seri 553 tanggal 07 Agustus 2003. Lokasi Pohon Induk Tunggal (PIT) apel Manalagi berada di Kebun Percobaan Banaran.

3. Apel Anna

Menurut Suhariyono, jika dibandingkan dengan apel Malang pada umumnya yang berbentuk bulat, maka apel Anna lebih mirip dengan apel impor. Karena itu apel ini sering diperlakukan sebagai apel impor pedagang buah.Jika sudah matang, kulit Apel Anna berwarna merah tua dan merata. Sedangkan untuk Apel Anna yang masih muda, kulitnya berwarna hijau kemudian berubah menjadi hijau kekuningan semburat merah jika mulai matang."Warna kulit inilah yang menjadi salah satu daya tarik Apel Anna," papar Suharyiyono seperti dikutip laman Sinar Tani.Dari segi fisik, apel Anna berbentuk agak memanjang seperti trapesium terbalik dengan pangkal buah berbentuk seperti bintang. Kulit apel Anna tipis, sehingga tidak bisa disimpan terlalu lama. Jika baru saja dipetik, apel Anna memiliki rasa lebih asam daripada apel malang lainnya. Namun, setelah dibiarkan selama 3-4 hari, rasanya menjadi manis dengan aroma apel yang tajam. Daging buahnya terasa masir, namun padat dan tidak seperti apel impor. Kandungan air yang dimiliki Apel Anna cukup banyak.Satu butir apel Anna memiliki berat yang lebih ringan dibandingkan dengan apel malang lainnya. Dengan ukuran yang sama, Apel Manalagi 1 kg hanya berisi 5-6 butir, namun apel Anna bisa mencapai 7 butir/kg.Suhariyono mengatakan, apel Anna berasal dari Thailand dan mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1975. Sebelumnya, di Kebun Pusat Penelitian Hortikultura Thailand, apel Anna meskipun sudah tua, namun belum pernah berbuah sama sekali. Namun setelah pohon apel Anna diperlakukan layaknya tanaman apel di Indonesia, dua minggu kemudian mulai muncul bunga.Apel Anna dilepas dengan SK Menteri Pertanian Nomor 513/Kpts/SR.120/12/2005 tanggal 30 Desember 2005. Apel Anna berasal introduksi dari Israel yang beradaptasi baik di dataran tinggi dengan ketinggian 1.000 meter dpl dengan kelembaban rendah. Pohon Induk Tunggal (PIT) apel Anna telah dideterminasi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Timur dengan nomor Induk: PIT/AL/a/JTM-001/17 dengan nomor seri 552 tanggal 07 Agustus 2003. Lokasi Pohon Induk Tunggal (PIT) Apel Anna berada di Kebun Percobaan Banaran.


Salah satu produk olahan apel selain keripik adalah dapat di ekstraksi menjadi


klik di atas untuk info produk cuka apel alami moornie



Komentar

Postingan populer dari blog ini

sejarah cuka apel dan cara pembuatannya

sari cuka apel